"Kalau kamu jadi pers, berani kamu buka aib ibumu?"
Saya masih kepikiran sama kata
katanya senior saya di UKM LPM Edukasi, “Kalau kamu jadi pers, berani nggak
kamu buka aibnya ibumu? Kalau kamu sebagai pers mahasiswa yang aktif di suatu
organisasi, berani nggak kamu membuka aib organisasimu itu”
Di sini letak kejanggalannya.
Masak iya
organisasi disamakan dengan sosok Ibu? Saya masih nggak terima.
Ibu itu merawat
anaknya sejak dalam kandungan sampai beliau selesai tugasnya sebagai ibu. Sedangkan
organisasi, paling juga kenal beberapa tahun. Organisasi cuma sebagai wadah,
sedangkan sosok Ibu adalah sosok yang nggak
ada duanya. Jadi kalau beliaunya menyamakan Ibu dengan organisasi lalu
bertanya, “Berani kamu membukan aib ibumu?” jelas itu keliru. Ini dilihat dari
kacamata saya. Kalau dari kacamata anda berbeda, ya.. itulah hidup.
Jadi, kalau ada pertanyaan menodong saya semacam lebih memilih untuk membuka aib ibu atau organisasi ya mending buka aib nya organisasi.
Tiba tiba muncul persepsi lain. Bagaimana kalau ibu saya itu tesandund masalah korupsi? Itu termasuk aib kan ya?
Jadi, kalau ada pertanyaan menodong saya semacam lebih memilih untuk membuka aib ibu atau organisasi ya mending buka aib nya organisasi.
Tiba tiba muncul persepsi lain. Bagaimana kalau ibu saya itu tesandund masalah korupsi? Itu termasuk aib kan ya?
Komentar
Posting Komentar