Dia dan Gitar Usang
Berbekal gitar usang yang dia pinjam dari temannya, dia berlari kesana kemari, rela tubuhnya terbakar oleh panasnya matahari, asal dompet tidak ikut terbakar oleh kebutuhan hidup yang kian menggunung.
Sering dia diusir oleh sopir karena dianggap mengganggu ketenangan. Sering dia tak mendapat imbalan yang setimpal dari penumpang.
Ketika bus lewat, dia bersiap memasang kuda kuda. Kaki yang siap untuk berlari mengejar bus, tangan kanan yang siap memegang gitar tua nan usang, tangan kiri yang siap untuk berpegang pada tepian pintu bus dan mental yang telah dia siapkan sejak dia melangkahkan kaki keluar hunian.
Kalian tau mukanya dia ada dimana? Dia menanggalkan mukanya dan menyimpannya di pojokan lemari. Dia tinggalkan "muka" tersebut demi mempertebal dompet dan menyambung hidup.
Tak jarang dia bertemu teman teman seperjuangannya dulu kala menginjakkan kaki di bangku sekolah. Tak jarang dia harus bersuara lebih keras karena berlomba dengan deru suara mesin bus. Tak jarang dia mendapati banyak penumpang bus yang lebih memilih menelungkupkan kedua telapak tangannya di dada sembari menggelengkan kepalanya. Tak jarang dia dipalak oleh preman preman kampung yang lebih kuat darinya.
Begitulah hidup, deritanya tiada akhir.
Sering dia diusir oleh sopir karena dianggap mengganggu ketenangan. Sering dia tak mendapat imbalan yang setimpal dari penumpang.
Ketika bus lewat, dia bersiap memasang kuda kuda. Kaki yang siap untuk berlari mengejar bus, tangan kanan yang siap memegang gitar tua nan usang, tangan kiri yang siap untuk berpegang pada tepian pintu bus dan mental yang telah dia siapkan sejak dia melangkahkan kaki keluar hunian.
Kalian tau mukanya dia ada dimana? Dia menanggalkan mukanya dan menyimpannya di pojokan lemari. Dia tinggalkan "muka" tersebut demi mempertebal dompet dan menyambung hidup.
Tak jarang dia bertemu teman teman seperjuangannya dulu kala menginjakkan kaki di bangku sekolah. Tak jarang dia harus bersuara lebih keras karena berlomba dengan deru suara mesin bus. Tak jarang dia mendapati banyak penumpang bus yang lebih memilih menelungkupkan kedua telapak tangannya di dada sembari menggelengkan kepalanya. Tak jarang dia dipalak oleh preman preman kampung yang lebih kuat darinya.
Begitulah hidup, deritanya tiada akhir.


intrupsi, death is the end of the sorrow
BalasHapus