Orientasi sama dengan pelatihan mental?
Sembari
mendengarkan celotehan mahasiswa baru disamping saya yang lagi cerita-cerita
tentang Ospek fakultas (gghhrrrhhh... cukup mbak cukup! Bahas ospek jurusan
saja!)
Oke,
berbicara masalah ospek, masalah orientasi mahasiswa baru ataupun orientaasi
siswa baru (MOS) mungkin di Indonesia ini perlu ada perubahan. Bukan! Memang Harus
ada perubahan!
MOS
(Masa Orientasi Siswa) dan OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) adalah
sebuah kegiatan yang rutin diadakan tiap tahun di semua lembaga pendidikan
kecuali jenjang Sekolah Dasar. Banyak yang merasa nervous bahkan takut
setiap akan atau saat mengikuti acara ini. Banyak yang repot akibat efek
samping dari acara ini. Bukan hanya peserta MOS atau OSPEK-nya saja, keluarga
mereka pun ikut repot. Banyak pula yang masih mempertanyakan, sebenarnya apa
tujuan dari MOS atau OSPEK itu? Pentingkah saya mengikuti kegiatan itu?
Orientasi,
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah peninjauan untuk menentukan
sikap yg tepat dan benar. Jadi, orientasi adalah sebuah kegiatan yang
seharusnya agenda dari kegiatan tersebut adalah untuk memperkenalkan lingkungan
sekolah atau lingkungan kampus bagi para anggota orientasi. Targetnya adalah
para peserta orientasi mampu mengenali dengan baik keadaan tempat belajar
mereka yang baru.
Namun,
yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Tujuan dari MOS atau OSPEK jauh
dari target yang diharapkan. MOS atau OSPEK bukan lagi sebagai ajang untuk
memperkenalkan lingkungan sekolah ataupun kampus kepada siswa maupun mahasiswa
baru, tapi lebih kepada bagaimana siswa baru ataupun mahasiswa baru dilatih
mentalnya. Itu, dari segi panitia orientasi.
Tapi,
hey, come on! Latihan mental dalam waktu 3 hari, apa gunanya? Memang, sewaktu
orientasi mental mereka terlatih. Tapi setelah orientasi, mental mereka kembali
ke mental - mental sebelumnya.
Efek
yang lebih ekstrem dari acara orientasi yang keras ini adalah mahasiswa baru
ataupun siswa baru jadi takut sama kakak kakak panitia OSPEK ataupun MOS.
Mayoritas itu yang terjadi di lingkungan saya.
OSPEK
ataupun MOS seharusnya acara itu menjadi acara yang menyenangkan! Acara dimana
peserta orientasi mampu mendapatkan teman sebanyak banyaknya. Mampu mengenali
lingkungan sekolah ataupun kampus mereka yang baru, setidaknya mereka tau
secara pasti tiap tiap sudut sekolah ataupun kampus itu berfungsi untuk apa.
Mampu mengenali guru ataupun dosen atau senior senior mereka.
Intinya,
OSPEK ataupun MOS jaman sekarang sudah bukan waktunya lagi untuk teriak-teriak
di hadapan peserta orientasi, marah-marah tanpa sebeb di hadapan para peserta
orientasi, mencari - cari alasan para peserta orientasi.
Coba
renungkan ini baik – baik, bukannya tindakan memaksa itu termasuk mengekang
kebebasan berekspresi serta berpendapat dan menyalahi UUD Pasal 28 E ayat 2
yang salah satu isinya berisi tentang kebebasan berpendapat?
Ciri khas dari
acara MOS atau OSPEK adalah selalu ada penugasan dari panitia kegiatan untuk
membuat atribut yang cukup merepotkan peserta. Dengan batas waktu yang sangat
singkat mereka diharuskan untuk menyelesaikkan atribu – atribut tersebut tepat
waktu sehingga mereka bisa memakainya pada waktu hari-H. Ciri khas lainnya
adalah aturan – aturan yang terkesan otoriter. Hampir setiap lembaga pendidikan
yang mengadakan MOS atau OSPEK pasti ada peraturan ini : “Panitia selalu benar, Junior selalu salah.”
Peraturan seperti itu
bersifat otoriter bukan? Secara tak langsung peserta MOS atau OSPEK telah
didoktrin untuk mematuhi peraturan yang bersifat otoriter. Kalau ini terus
berlanjut, bagaimana wajah Indonesia kedepannya? Akan muncul pertaturan –
perturan otoriter lainnya.
Ciri
khas selanjutnya adalah caci maki, bentakan dan hukuman dari panitia. Panitia
MOS atau OSPEK berasumsi bahwa caci maki, bentakan dan hukuman yang keras itu
bertujuan untuk melatih mental peserta supaya kuat menjalani kehidupan mereka
yang baru. Tapi, apakah bisa melatih mental supaya kuat dalam waktu 3 hari?
Kenyataannya adalah mereka semakin takut.
Beberapa dari mereka setelah OSPEK
berlangsung bahkan masih ada yang memiliki rasa takut ketika bertemu dengan
pantia MOS atau OSPEK yang galak saat di lapangan.Seharusnya penugasan membuat
atribut, caci maki, aturan – aturan dan hukuman yang tak rasional dari para
senior harus mempunyai tujuan yang pasti dan ada manfaatnnya untuk para
peserta. Kalau memang tidak ada tujuan yang berarti sebaiknya dihilangkan saja
warisan – warisan seperti itu.
Mayoritas
mahasiswa baru saat ditanya tentang apa yang mereka peroleh setelah Ospek
adalah tidak memperoleh apapun kecuali bentakan, caci maki dan hal – hal
negatif lainnya. Ospek adalah titik awal para mahasiswa baru bertemu dengan
kakak – kakak angkatan mereka. Kalau dari kesan pertama saja mereka sudah tidak
suka bagaimana selanjutnya?
Sebenarnya,
sudah banyak pembicaraan mengenai sistem Ospek yang berlaku di Indonesia. sudah
banyak guru dan dosen yang menentang sistem yang berlaku selama ini. Tapi kenapa
masih banyak kegiatan orientasi sekolah yang menyimpang dari target semula,
memperkenalkan lingkungan baru kepada peserta orientasi.
Sudah
saatnya Indonesia mengganti sistem MOS atau OSPEK di Indoensia dengan yang
lain. Dengan sistem yang lebih aman, yang lebih bisa digunakan untuk mencapai
target awal, yang lebih bisa meninggalkan kesan nyaman di hati para peserta.
OSPEK ataupun MOS harusnya menjadi kenangan yang paling indah selain acara perpisahan sekolah ataupun kampus ketika lulus kelak.
MOS
ataupun
OSPEK adalah agenda dimana para siswa baru ataupun mahasiswa baru
bertemu dengan kakak-kakak kelas mereka. Kalau dari awal para panitia
orientasi
yang tidak lain adalah kakak kakak kelas peserta orientasi sudah
menunjukkan
sikap tidak bersahabat, bagaimana dengan kelanjutan hubungan mereka (?)
mereka kelak? Walaupun para panitia orientasi itu hanya sekedar akting
belaka.
Ospek
kejam, sudah bukan jamannya !!!


itu tidak lepas dari segala hal yang berhubungan dengan pencitraan. ada pula yang menjadikan itu sebagai modus, mencari selingkuhan
BalasHapus