Penjelasan Mengenai Hubungan Antara Pertanyaan Tes Psikologi dengan Kepribadian
Oleh Alya Novita Putri
pertama:
NGGAK SEMUA tes psikologi itu benar atau akurat, bahkan yang dibuat
oleh lembaga bonafide sekalipun. Sehebat-hebatnya psikolog / profesor /
dukun / apapun, NGGAK ADA yang bisa benar-benar menebak kepribadian
seseorang, bahkan orang itu sendiri. yang bisa cuma Allah, yang
menciptakan. Clear?kedua:
tes psikologi tertulis yang paling akurat adalah esai. Dalam multiple
choice hanya ada sekian pilihan jawaban, jadi itu istilahnya cuma
gambaran kasar tentang dirimu. Atau kira-kira "kamu itu tipe orang
seperti apa". Tes yang menyediakan space untuk jawaban karanganmu sendiri menunjukkan akurasi lebih, karena dari sekian kondisi jarang ada jawaban orang yang sama.
Misalnya, aku ambil dari buku bhs inggrisnya ayahku: "Kamu bukan perokok dan ada di dalam ruang tertutup. Saat itu rapat (atau acara apapun yang resmi) akan dimulai, dan kamu melihat salah seorang atasan mulai menyalakan rokok. Kamu tahu rapat masih akan berlangsung lama, dan kamu tidak akan tahan menghirup asap rokok. Apa yang akan kamu lakukan?"
Beberapa persen orang akan memberikan jawaban yang sama, atau mungkin lawan dari jawaban itu pada pertanyaan tersebut. Tapi cara mereka menuliskannya, pilihan kata yang mereka gunakan, dan berbagai faktor lainnya ikut menentukan kepribadian mereka dengan andil cukup besar.
Tapi... pada saat para tester menemukan jawaban yang berbeda dari yang lain, biasanya mereka menemukan orang yang entah jenius, aneh, pintar, atau malah keterbelakangan mental. Pokoknya kelainan.
btw, serius ini masih panjang sampai pertanyaan kakak kejawab. gak papa nih? ._.ketiga: nggak semua pertanyaan memang langsung bertanya mengenai kepribadianmu. Itu sebenarnya semacam trik psikologi, yang efeknya lumayan mirip sama ilusi optik, cuma bukan ke mata.
Biasanya, pada saat ditanya langsung tentang kepribadian, orang akan cenderung menjawab menggunakan persona-nya.
Urm, persona itu semacam "diri" yang kita buat untuk di'pakai' sehari-hari, istilahnya diri kita yang diharapkan orang lain / masyarakat, bisa dibilang 'avatar', sisi kita yang ingin kita tampilkan ke orang lain.
Intinya, kita akan merasa nggak aman untuk jujur karena kita harus 'jaga image', dan ini lebih dari sekedar ingin dipandang keren, tapi juga tentang norma, tentang self-insecurity, dan banyak hal lain. Contohnya kalau ditanya, "Kamu rajin ngerjain PR nggak?", kita pasti merasa harus menjawab 'iya' kalau nggak ingin di-cap sebagai orang malas. Dan kalau yang tanya adalah temen sendiri, kita bakal merasa harus bilang 'nggak' biar nggak di-cap sok rajin atau apalah.
Tapi, kalau kita ditanya hal yang nggak ada hubungannya, misalnya, "Warna cat rumahmu apa?", kita nggak akan merasa tertekan untuk menjawab, karena, yah, apa bahayanya ngomong warna cat rumah ke orang lain? Kita akan cenderung jawab jujur, padahal dari situ aja orang bisa tahu beberapa bagian dari kepribadianmu.keempat: tes kepribadian bukan tes serta merta yang akan langsung jadi dengan satu atau bahkan beberapa pertanyaan. Tes yang benar disusun dari berbagai jawaban kumulatif, berbagai pertanyaan, berbagai penelitian, dan bisa jadi interaksi. Semakin banyak pertanyaan yang ada dalam tes itu, semakin akurat jadinya. Jadi sebenarnya mustahil kalau mau nentuin kepribadian hanya dari satu pertanyaan saja.
TAPI, kita juga mengenal 'stereotype', yaitu beberapa pilihan jawaban yang sering dijawab oleh orang lain. Misalnya, kalau ketika ditanya, "Rasa es krim apa yang kamu suka?" responden cewek sebagian besar memilih cokelat, dan responden cowok kebanyakan memilih strawberry, maka bisa jadi tester akan menyimpulkan bahwa 'cokelat' itu feminin dan 'strawberry' itu maskulin. Cuma, ya itu, tingkat akurasinya amat sangat diragukan.
Ini sebenarnya sejenis sama pertanyaannya kak Wulan, "tanaman atau bangunan". Tanaman terdiri dari banyak garis lengkung, sementara bangunan biasanya hanya terdiri dari garis lurus. Dalam seni rupa, garis lengkung menggambarkan kehalusan, kelembutan, dan feminisme, karena saat ingin membuat garis lengkung yang bagus, orang akan mengangkat pensil/kuasnya sedikit, lalu menggambar dengan sapuan yang lembut dan pelan. Dibilang kreatif karena garis lengkung memang lebih bisa dibentuk jadi apa saja, lebih bebas. Garis lurus menggambarkan ketegasan, kekakuan, dan kekuatan, karena memang itu yang diperlukan untuk membuat garis lurus yang bagus. Dibilang teknikal dan logis karena untuk garis lurus yang bagus, kita harus pakai penggaris biar hasilnya akurat, nggambarnya nggak boleh ragu-ragu, dan cuma ada satu tipe garis lurus.
(maksudku, kalau disuruh nggambar 'tetesan air', orang akan muncul dengan berbagai jenis gambar, dari mulai yang paling mirip sama gambar di botol aqua sampai yang paling nyeleneh, tapi kalau disuruh nggambar 'persegi', jelas hasilnya cuma satu, kecuali kalau yang dites buta huruf / silinder)kelima: hasil bisa berubah tergantung siapa yang ngetes. <<ini pentingnya lembaga bonafide.
Jawaban dari pertanyaan klasik 'warna favorit' bisa diartikan jadi sejuta makna, serius. Contohnya, merah bisa berarti keberanian, bisa berarti kekuatan, bisa berarti sex-y -- dalam artian agak sesuatu, dsb.
Terus, beberapa jawaban bisa menghasilkan kesimpulan yang sama. Contohnya, biru dan hijau sama-sama menggambarkan ketenangan, kuning dan oranye sama-sama menggambarkan semangat, dsb.
Terus, bisa jadi ada sifat yang lumayan bertolak belakang bahkan dalam satu jawaban. Contohnya, putih bisa melambangkan kebenaran, tapi juga melambangkan kelemahan. Hitam melambangkan sesuatu yang buruk, tapi juga melambangkan sesuatu yang kuat dan bisa diandalkan (untuk melindungi).
Dan bagian apa yang akan diambil sebagai perwakilan dalam sebuah tes (misalnya: merah diwakili berani atau ceroboh?), itu semua TERSERAH tester. Jadi, tentu banyak subjektivitas terkait. Sekali lagi, ini pentingnya tenaga profesional. Setidaknya mereka seharusnya tahu apa yang mereka lakukan.keenam: hasil bisa berubah tergantung kondisi responden.
penjelasan gampang: pas kamu lagi mood, lagi seneng, pas ditanyain macem-macem, kamu mungkin bakal jawab serius atau nge-iya-in aja, tapi kalau pas badmood, disapa sedikit udah langsung "F*CK OFF", jadi, yah... =___=a radak repot jadi psikologis.urm, jawaban tepatnya pertanyaan kakak ada di poin ketiga. Seterusnya pelengkap dan beberapa pertanyaan turunan sesudahnya. Cukup jelas? *sorry rambling bangetah! terus, soal kunci. Kalau itu, yang kepikiran di kepalaku sih, tentang optimisme dan pesimisme. Tapi ya itu, keakuratannya diragukan btw, aku baru sadar nggak secara langsung jawab pertanyaan kakak. duh =.= *facepalm*
anu, masalahnya jawabannya itu SEMUA yang dipelajari anak psikologi. jadi kalau beneran tertarik, silahkan masuk jurusan psikologi. Seperti yang kubilang, masing-masing pertanyaan punya karakteristik jawaban, konteks, dst dst. Nggak bisa langsung disimpulkan. Sori nggak begitu membantu ._____.vbelieve it or not, BANYAK tes psikologis yang lebih random dari itu. Dasar pemikirannya sih, "pikiran pertama yang terlintas".
Misalnya, aku ambil dari buku bhs inggrisnya ayahku: "Kamu bukan perokok dan ada di dalam ruang tertutup. Saat itu rapat (atau acara apapun yang resmi) akan dimulai, dan kamu melihat salah seorang atasan mulai menyalakan rokok. Kamu tahu rapat masih akan berlangsung lama, dan kamu tidak akan tahan menghirup asap rokok. Apa yang akan kamu lakukan?"
Beberapa persen orang akan memberikan jawaban yang sama, atau mungkin lawan dari jawaban itu pada pertanyaan tersebut. Tapi cara mereka menuliskannya, pilihan kata yang mereka gunakan, dan berbagai faktor lainnya ikut menentukan kepribadian mereka dengan andil cukup besar.
Tapi... pada saat para tester menemukan jawaban yang berbeda dari yang lain, biasanya mereka menemukan orang yang entah jenius, aneh, pintar, atau malah keterbelakangan mental. Pokoknya kelainan.
btw, serius ini masih panjang sampai pertanyaan kakak kejawab. gak papa nih? ._.ketiga: nggak semua pertanyaan memang langsung bertanya mengenai kepribadianmu. Itu sebenarnya semacam trik psikologi, yang efeknya lumayan mirip sama ilusi optik, cuma bukan ke mata.
Biasanya, pada saat ditanya langsung tentang kepribadian, orang akan cenderung menjawab menggunakan persona-nya.
Urm, persona itu semacam "diri" yang kita buat untuk di'pakai' sehari-hari, istilahnya diri kita yang diharapkan orang lain / masyarakat, bisa dibilang 'avatar', sisi kita yang ingin kita tampilkan ke orang lain.
Intinya, kita akan merasa nggak aman untuk jujur karena kita harus 'jaga image', dan ini lebih dari sekedar ingin dipandang keren, tapi juga tentang norma, tentang self-insecurity, dan banyak hal lain. Contohnya kalau ditanya, "Kamu rajin ngerjain PR nggak?", kita pasti merasa harus menjawab 'iya' kalau nggak ingin di-cap sebagai orang malas. Dan kalau yang tanya adalah temen sendiri, kita bakal merasa harus bilang 'nggak' biar nggak di-cap sok rajin atau apalah.
Tapi, kalau kita ditanya hal yang nggak ada hubungannya, misalnya, "Warna cat rumahmu apa?", kita nggak akan merasa tertekan untuk menjawab, karena, yah, apa bahayanya ngomong warna cat rumah ke orang lain? Kita akan cenderung jawab jujur, padahal dari situ aja orang bisa tahu beberapa bagian dari kepribadianmu.keempat: tes kepribadian bukan tes serta merta yang akan langsung jadi dengan satu atau bahkan beberapa pertanyaan. Tes yang benar disusun dari berbagai jawaban kumulatif, berbagai pertanyaan, berbagai penelitian, dan bisa jadi interaksi. Semakin banyak pertanyaan yang ada dalam tes itu, semakin akurat jadinya. Jadi sebenarnya mustahil kalau mau nentuin kepribadian hanya dari satu pertanyaan saja.
TAPI, kita juga mengenal 'stereotype', yaitu beberapa pilihan jawaban yang sering dijawab oleh orang lain. Misalnya, kalau ketika ditanya, "Rasa es krim apa yang kamu suka?" responden cewek sebagian besar memilih cokelat, dan responden cowok kebanyakan memilih strawberry, maka bisa jadi tester akan menyimpulkan bahwa 'cokelat' itu feminin dan 'strawberry' itu maskulin. Cuma, ya itu, tingkat akurasinya amat sangat diragukan.
Ini sebenarnya sejenis sama pertanyaannya kak Wulan, "tanaman atau bangunan". Tanaman terdiri dari banyak garis lengkung, sementara bangunan biasanya hanya terdiri dari garis lurus. Dalam seni rupa, garis lengkung menggambarkan kehalusan, kelembutan, dan feminisme, karena saat ingin membuat garis lengkung yang bagus, orang akan mengangkat pensil/kuasnya sedikit, lalu menggambar dengan sapuan yang lembut dan pelan. Dibilang kreatif karena garis lengkung memang lebih bisa dibentuk jadi apa saja, lebih bebas. Garis lurus menggambarkan ketegasan, kekakuan, dan kekuatan, karena memang itu yang diperlukan untuk membuat garis lurus yang bagus. Dibilang teknikal dan logis karena untuk garis lurus yang bagus, kita harus pakai penggaris biar hasilnya akurat, nggambarnya nggak boleh ragu-ragu, dan cuma ada satu tipe garis lurus.
(maksudku, kalau disuruh nggambar 'tetesan air', orang akan muncul dengan berbagai jenis gambar, dari mulai yang paling mirip sama gambar di botol aqua sampai yang paling nyeleneh, tapi kalau disuruh nggambar 'persegi', jelas hasilnya cuma satu, kecuali kalau yang dites buta huruf / silinder)kelima: hasil bisa berubah tergantung siapa yang ngetes. <<ini pentingnya lembaga bonafide.
Jawaban dari pertanyaan klasik 'warna favorit' bisa diartikan jadi sejuta makna, serius. Contohnya, merah bisa berarti keberanian, bisa berarti kekuatan, bisa berarti sex-y -- dalam artian agak sesuatu, dsb.
Terus, beberapa jawaban bisa menghasilkan kesimpulan yang sama. Contohnya, biru dan hijau sama-sama menggambarkan ketenangan, kuning dan oranye sama-sama menggambarkan semangat, dsb.
Terus, bisa jadi ada sifat yang lumayan bertolak belakang bahkan dalam satu jawaban. Contohnya, putih bisa melambangkan kebenaran, tapi juga melambangkan kelemahan. Hitam melambangkan sesuatu yang buruk, tapi juga melambangkan sesuatu yang kuat dan bisa diandalkan (untuk melindungi).
Dan bagian apa yang akan diambil sebagai perwakilan dalam sebuah tes (misalnya: merah diwakili berani atau ceroboh?), itu semua TERSERAH tester. Jadi, tentu banyak subjektivitas terkait. Sekali lagi, ini pentingnya tenaga profesional. Setidaknya mereka seharusnya tahu apa yang mereka lakukan.keenam: hasil bisa berubah tergantung kondisi responden.
penjelasan gampang: pas kamu lagi mood, lagi seneng, pas ditanyain macem-macem, kamu mungkin bakal jawab serius atau nge-iya-in aja, tapi kalau pas badmood, disapa sedikit udah langsung "F*CK OFF", jadi, yah... =___=a radak repot jadi psikologis.urm, jawaban tepatnya pertanyaan kakak ada di poin ketiga. Seterusnya pelengkap dan beberapa pertanyaan turunan sesudahnya. Cukup jelas? *sorry rambling bangetah! terus, soal kunci. Kalau itu, yang kepikiran di kepalaku sih, tentang optimisme dan pesimisme. Tapi ya itu, keakuratannya diragukan btw, aku baru sadar nggak secara langsung jawab pertanyaan kakak. duh =.= *facepalm*
anu, masalahnya jawabannya itu SEMUA yang dipelajari anak psikologi. jadi kalau beneran tertarik, silahkan masuk jurusan psikologi. Seperti yang kubilang, masing-masing pertanyaan punya karakteristik jawaban, konteks, dst dst. Nggak bisa langsung disimpulkan. Sori nggak begitu membantu ._____.vbelieve it or not, BANYAK tes psikologis yang lebih random dari itu. Dasar pemikirannya sih, "pikiran pertama yang terlintas".


tulisannya yangbiking pusying. ora mudeng bangat
BalasHapus