Aku Kira itu Kamu
Sore itu hujan
turun dengan derasnya. Aku duduk santai di sofa ruang tamu. Pagi tadi,
seseorang mengabariku melalui pesan singkat bahwa dia akan berkunjung ke
rumahku. Demi membaca pesan singkat ini, aku menahan nafas selama sekian detik.
Pesan singkat itu benar benar special untukku. Pasalnya, dia yang mengirim
pesan itu adalah seseorang yang special pula di hidupku.
Segera aku
merapikan rumahku yang sebelum sebelumnya aku jarang melakukan hal semacam ini.
Dimulai dari kamarku yang sudah aku anggap sebagai “hutan” sendiri, berlanjut
ke ruang tamu, dapur, kamar mandi, semuanya aku jamahi. Ibu-bapak yang melihat
tingkah anehku ini hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya sembari
menghirup teh hangat favorit mereka.
Mendekati waktu
sholat dhuhur, aku selesai dengan ambisiku merapikan rumah hari ini. Kamar
sudah bersih, rapi, wangi. Ruang ruang yang lainnya sudah aku atur ulang
sedemikian rupa sehingga tampak cantik. Lantai sudah aku sapu, jendela sudah
aku bersihkan lengkap dengan sawang yang
terkadang menggantung di atap rumah.
Puas dengan
hasil kerja keras membersihkan rumah hari ini, giliranku untuk membersihkan
diriku sendiri.
“Mandi dan
selesai itu sholat. Kemudian masak cap cay kesukaannya.” Ucapku dalam batin. Aku
benar benar happy hari ini. Serasa
tubuh ini ingin melayang ke angkasa ketika mengingat kembali isi pesan singkat
tadi pagi.
Selesai menjalankan
ibadah sholat dhuhur, segera aku meluncur ke dapur. Untungnya isi kulkas hari
ini penuh dan semua bahan yang aku butuhkan sudah tersedia dengan rapinya. Aku semangat
’45 mulai memasak masakan cap cay.
“Bersih bersih sudah.
Masak sudah. Istirahat sebentar, bolehlah.” Aku memejamkan mataku untuk
beberapa saat di kamarku.
Sekiranya dua puluh menit aku melayang di dunia mimpi. Bangun dari tidur dengan napas tersengal sengal, tak biasanya aku bermimpi semacam itu. Mimpi buruk di siang hari.... Tiba tiba jantungku berdegub kencang ketika mengingat Si Dia.
Sore hari, tepat pukul 16.06 saat aku melirik jam di hanpdhoneku. Aku sudah siap menyambutnya dengan senyum terhangat. Semuanya sudah aku persiapkan. Aku duduk di sofa ruang tamu sembari bermain game di handphoneku.
Hari semakin sore dan langit mendung pun mulai berdatangan. Semakin lama semakin gelap. Semakin gelap, turunlah hujan yang mengguyur kota tercintaku. Petir menyambar di sana sini. Mencoba menenangkan hati yang sedang khawatir, aku mencoba mengirim pesan singkat padanya.
"Sudah berangkat? Sampai rumah kira kira jam berapa?"
Lama aku menunggu respon darinya, namun tak kunjung juga aku menerima balasan darinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.03 namun dia belum juga datang. Sebentar lagi waktu sholat maghrib tiba.
Tepat disaat adzan maghrib berkumandang, disaat aku hendak meninggalkan ruang tamu untuk sholat, seseorang datang dengan basah kuyup. Dia...
"Maaf telat. Di jalan macet. Ada kecelakaan. Aku harus membopongnya ke mobil ambulans. Jadinya basah kuyup begini." ucapnya sembari menahan dingin.
"Kamu sudah mau datang ke sini, aku cukup senang. Sini masuk. Aku ambilkan handuk."
Aku menuju kamarku mengambil handuk dan kemeja yang sekiranya pas untuknya. Kasihan dia, kalau dibiarkan memakai baju basah bisa bisa masuk angin.
"Keringkan rambutmu pakai handuk ini. Dan kemeja ini, semoga pas untuk ukuran tubuhmu. Itu kamar khusus tamu, kamu ganti di sana ya." ucapku sambil menunjuk ke sebuah kamar.
"Terimakasih ya, sayang. Kamu perhatian sekali. Aku akan susah jika tanpa kamu. Aku akan kesepian jika tanpa kamu. Aku benar benar mencintaimu sampai mati."
"Sudah sana ganti bajumu!"
Kata katanya berdengung keras di telingaku. Tak henti hentinya bersuara sampai bunyi handphoneku berdering keras mengalahkannya.
"Halo? Iya Noni, ada apa?"
"Abian kecelakaan, Nad. Kamu dimana?" suara temanku yang terdengar terputus putus benar benar seperti halilintar yang menyambar langsung ke ulu hatiku.
"Aku lagi di rumah. Tapi Non, Abian kan..."
"Dia sedang dalam perjalanan ke rumahmu tiba tiba truk bermuatan besi berhenti mendadak. Efeknya, besi besi yang menjulur di bagian belakang truk menembus kaca mobil Abian dan.... Abian... Abian..." tak kudengar lagi suara temanku selain suara isakan.
Tiba tiba tanganku lemas setelah mendengar kabar itu. Bahkan untuk memegang handphonepun tanganku tak kuat. Aku berjalan dengan penuh keragu raguan menuju kamar khusus tamu. Aku memegang knop pintunya, aku dorong pintunya dan... betapa terkejutnya aku mendapati kamar tamu yang ternyata kosong.
Sore hari, tepat pukul 16.06 saat aku melirik jam di hanpdhoneku. Aku sudah siap menyambutnya dengan senyum terhangat. Semuanya sudah aku persiapkan. Aku duduk di sofa ruang tamu sembari bermain game di handphoneku.
Hari semakin sore dan langit mendung pun mulai berdatangan. Semakin lama semakin gelap. Semakin gelap, turunlah hujan yang mengguyur kota tercintaku. Petir menyambar di sana sini. Mencoba menenangkan hati yang sedang khawatir, aku mencoba mengirim pesan singkat padanya.
"Sudah berangkat? Sampai rumah kira kira jam berapa?"
Lama aku menunggu respon darinya, namun tak kunjung juga aku menerima balasan darinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.03 namun dia belum juga datang. Sebentar lagi waktu sholat maghrib tiba.
Tepat disaat adzan maghrib berkumandang, disaat aku hendak meninggalkan ruang tamu untuk sholat, seseorang datang dengan basah kuyup. Dia...
"Maaf telat. Di jalan macet. Ada kecelakaan. Aku harus membopongnya ke mobil ambulans. Jadinya basah kuyup begini." ucapnya sembari menahan dingin.
"Kamu sudah mau datang ke sini, aku cukup senang. Sini masuk. Aku ambilkan handuk."
Aku menuju kamarku mengambil handuk dan kemeja yang sekiranya pas untuknya. Kasihan dia, kalau dibiarkan memakai baju basah bisa bisa masuk angin.
"Keringkan rambutmu pakai handuk ini. Dan kemeja ini, semoga pas untuk ukuran tubuhmu. Itu kamar khusus tamu, kamu ganti di sana ya." ucapku sambil menunjuk ke sebuah kamar.
"Terimakasih ya, sayang. Kamu perhatian sekali. Aku akan susah jika tanpa kamu. Aku akan kesepian jika tanpa kamu. Aku benar benar mencintaimu sampai mati."
"Sudah sana ganti bajumu!"
Kata katanya berdengung keras di telingaku. Tak henti hentinya bersuara sampai bunyi handphoneku berdering keras mengalahkannya.
"Halo? Iya Noni, ada apa?"
"Abian kecelakaan, Nad. Kamu dimana?" suara temanku yang terdengar terputus putus benar benar seperti halilintar yang menyambar langsung ke ulu hatiku.
"Aku lagi di rumah. Tapi Non, Abian kan..."
"Dia sedang dalam perjalanan ke rumahmu tiba tiba truk bermuatan besi berhenti mendadak. Efeknya, besi besi yang menjulur di bagian belakang truk menembus kaca mobil Abian dan.... Abian... Abian..." tak kudengar lagi suara temanku selain suara isakan.
Tiba tiba tanganku lemas setelah mendengar kabar itu. Bahkan untuk memegang handphonepun tanganku tak kuat. Aku berjalan dengan penuh keragu raguan menuju kamar khusus tamu. Aku memegang knop pintunya, aku dorong pintunya dan... betapa terkejutnya aku mendapati kamar tamu yang ternyata kosong.


Komentar
Posting Komentar