Balada Daftar Ulang

Di sinilah aku. Duduk santai di kursi goyang favorit nenek sembari menikmati semilir angin sore yang berhembus lembut. Di depanku, terpampang nyata hamparan ladang sawah yang luas. Sejauh mata memandang, hanya warna hijau yang terlihat. Suara kambing mengembik mencari kawanannya menjadi instrumen tersendiri bagiku dalam menikmati suasana sore hari ini. Ya! Aku sedang berada di desaku. Desa yang masih asri. Masih hijau. Masih jauh dari asap kendaraan bermotor. Aku sedang menghabiskan libur semesterku.

Hembusan angin semakin terasa kuat tapi tetap lembut terasa. Dengan pungunggung yang bersandar pada sandaran kursi goyang, aku menemukan "posisi wenak" ku. Perlahan namun pasti, aku menutup kedua kelopak mataku sampai aku tertidur. Benar benar suasananya sangat mendukung untuk bermalas malasan.

Belum nyenyak aku menari menari di dunia mimpiku, aku harus kembali ke dunia nyataku karena dering sms masuk membuyarkan lelapku.

"Sudah daftar ulang?" Dari seorang teman seperjuangan. Memang hari ini adalah hari ketiga masa pembayaran daftar ulang. Namun sepertinya, aku harus sabar menunggu rezeki yang sedang dikirimkan oleh Gusti Allah ke tangan bapak-ku. Aku tak membalas sms tersebut, karena bila dibalas itu artinya aku harus menjelaskan alasannya. Aku tak mau repot.

Sepuluh menit berlalu, datang lagi sms baru.
"Kelas kelas sudah hampir penuh! Mau daftar ulang kapan?" dari seorang teman seperjuangan. Masih dari orang yang sama. Bedanya, kali ini aku sedikit gugup demi membaca sms yang satu itu. Aku masih baru dalam dunia kampus. Masih belum paham betul tentang Kartu Rencana Studi. Meskipun begitu, aku tetap tak membalas sms tersebut.

Tiga belas menit berlalu, kali ini ada telepon dari seortang teman. Masih dari orang yang sama.
"Kok nggak dijawab sms ku?" tanya dia
"Kenapa memangnya?"
"Kelas kelas sudah hampir penuh. Kamu kapan mau daftar ulang? Nanti kalau bayarnya di ujung ujung, takutnya nggak dapat kelas." jelas dia
"Rencananya mau daftar ulang tanggal sepuluh" jawabku santai
"Nggak bisa! Takutnya kelas sudah penuh nanti."
"Kamu kok maksa? Bapak saya memang belum dapat rezeki. Mau gimana lagi?"

Dia menutup sambungan telponnya tanpa pamit.

Aku kembali bersandar di kursi goyang. Mencoba memikirkan hal terburuk yang akan terjadi. Kalau misalnya benar kelas kelas sudah tidak mencukupi, hal terburuk yang akan aku alami adalah cuti kuliah.

Sekali lagi teman, aku masih baru dalam dunia kampus.

Tiba tiba dari ujung mataku, keluar setitik air yang hangat. Lama lama air itu mengalir deras melewati pipiku. Aku mengusap wajahku. Berusaha menghilangkan air itu dari wajahku.

Dari awal, aku sudah menduga akan seperti ini jadinya. Setiap ada pembayaran, satu rumah akan berusaha mencarikan dana untuk membayar daftar ulang. Satu rumah itu berarti bapak, ibu dan saya.

Dulu aku ngotot setelah lulus sekolah langsung bekerja. Namun orang tuaku tidak membolehkannya. Katanya, "Jaman sekarang kalau nggak punya gelar susah cari kerja."
"Lagipula, kamukan pinter. Nilaimu juga bagus bagus." imbuhnya.

Aku turuti kemauan beliau. Aku mencoba untuk serius dalam menjalani empat tahun di pabrik toga itu.

Terlintas kenangan kenangan saat aku masih duduk di bangku sekolah. Orang tuaku selalu mendukungku apapun yang aku lakukan. Masih segar dalam memori ingatanku, saat itu masih subuh. Jalanan masih gelap. Namun bapak seperti tak mengenal keadaan itu. Dia bersemangat mengayuh sepedanya menuju Sekolah Menengah Kejuruan yang aku idam idamkan. Ya! Aku mendaftar menjadi calon siswa baru di sekolah tersebut.

Lagi. Pipiku terasa hangat oleh sentuhan air yang mengalir dari unjung mataku.

Tiba tiba...

"Assalammu'alaikum...." suara gemuruh dari ruang tamu menandakan banyak sekali tamu yang datang. "Tumben" pikirku.

Saat aku melihat ruang tamu...
"Astaghfirullah... Ngapain kalian ke sini?"

Aku melihat mereka... Mereka yang telah menemaniku selama 4 bulan menjalani semester awal menjadi mahasiswa baru. Mereka yang selalu menghiburku dikala aku sedang galau. Mereka yang selalu berusaha mendorongku untuk lebih semangat lagi. Mereka yang selalu membuat saya menjadi gila ketika sedang berkumpul bersama mereka, melupakan sejenak beban hidup. Mereka adalah teman teman satu kosku.

"Ini!"
Aku melihat sebuah kertas. Bukan sembarang kertas!

"Kami khawatir kamu kehabisan kelas kalau membayar tanggal sepuluh. Jadi kami mengumpulkan uang tabungan kami untuk membayar daftar ulangmu. Kami hafal betul NIM sekaligus password SIAKAD-mu. Setelah berhasil membayar daftar ulangmu, kami langsung menyusun KRSmu. Kami mencoba menyamakan kelas dan jamnya supaya kita masih bisa bertemu di satu kelas. Tapi, sepertinya itu susah. Beberapa kelas yang kami pilih sudah penuh. Jadi kami memilih seadanya"

Selama mereka menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, tenggorokanku terasa sakit seperti ada yang mengganjal. Sakit sekali.
Saat mereka selesai bercerita, aku tak sanggup berbicara lagi. Aku tak sanggup membendung air yang sudah ingin tumpah ruah di ujung mataku ini. Aku berlari memeluk mereka semua. Pelukan yang hangat. Dalam tangis dan peluk, aku berdoa, semoga aku selalu bersama mereka.

Komentar

Postingan Populer