Dia Alasanku Untuk Bertahan

“I give up. I wanna out from this….” Dengan suara yang sedikit lesu bercampur dengan letih, pria yang bediri di depanku saat ini mengutarakan isi hatinya yang sudah sekian lama dia pendam.

“Kamu mau ikut keluar juga? Lalu bagaimana dengan masa depan usaha kita ini?” aku mencoba untuk membuatnya berpikir dua kali agar membatalkan niatnya.

“Aku capek dengan tingkah mereka yang sekenanya. Mereka merasa menjadi artis. Dipuja, disukai oleh adik adik angkatan di bawah mereka. Sok menjadi senior yang baik padahal di balik senyum begisnya mereka menyimpan sesuatu yang merugikan mereka.” Dia berbicara dengan napas terengah engah karena Manahan amarah.

“Nggak Cuma kamu yang capek! Aku dan kawan kawan yang lain juga. Tapi kita tetap bertahan. Berharap suatu saat kita punya rencana besar untuk membongkar kelakuan mereka.”

Keadaan menjadi hening sesaat. Masing masing dari kami tenggelam dalam lautan pikiran masing masing…

Dua tahun yang lalu, aku  bergabung di suatu organisasi berbasis tulis menulis. Di organisasi tersebut berkumpullah para pemuda yang sangat mempunyai minat dalam dunia tulis menulis. Semangat menulisku muncul saat awal aku bergabung dengan organisasi ini. Para pengurus organisasi itu sangat baik dan sangat “welcome” dengan anggota baru. Aku benar benar merasakan sikap kekeluargaan mereka sangat terasa. Sangat akrab. Tapi itu hanya di awal semata.

Setelah satu tahun menjalani masa magang, akhirnya aku diangkat menjadi pengurus tetap organisasi tersebut. Aku tidak sendiri. Ada 11 teman yang lainnya yang lolos seleksi alam untuk menjadi pengurus tetap. Aku sangat bersyukur bahwasannya aku bisa sangat akrab dengan begitu cepat di organisasi ini. Biasanya aku paling susah bila terjun di dunia baru.

Caturwulan pertama aku masih enjoy menjadi pengurus tetap.
Setiap hari aku selalu sarapan dengan lari lari mengejar narasumber, mencari sesuatu yang patut untuk dituangkan dalam secarik kertas, mengedit tulisan yang sekiranya kurang pas agar menjadi pantas untuk diterbitkan di bulletin harian kami.

Caturwulan kedua aku mulai merasa ada kejanggalan dalam organisasi ini.
Aku melihat seperti ada dua kubu dalam kepengurusan organisasi ini. Semasa aku menjadi kru magang, sekat itu tidak terlihat. Sama sekali tidak terlihat olehku maupun oleh teman teman seperjuanganku.

Caturwulan berikutnya sekat itu benar benar Nampak.
Benar benar terlihat ada dua kubu dalam “tubuh” ini. Yang satu produktif menghasilkan sesuatu entah itu berita, artikel, opini. Yang lainnya hanya mampu berbicara bak mandor kuli bangunan. Sebut saja ini kubu B dan kubu J.

Disaat rapat redaksi pra-penerbitan bulletin, kubu J selalu berhalangan hadir. Ada saja alasannya. Dimulai dari masih berada di tempat kejadian perkara, sakit, kecelakaan, motor mogok, dan yang lainnya. Setiap hari, hanya kubu B yang aktif mengedit tulisan kami para kru yang baru dilantik pasca masa magang. Begitu terus hingga suatu hari…

“Saya benar benar sudah tidak tahan lagi! Ini namanya sama saja saya yang kerja mereka yang dapat uang. Lihat! Mereka hanya aktif ketika masa masa perekrutan anggota baru. Masa masa dimana mereka bisa nampang muka mencari sensi bak artis goblok.” Ucap salah seorang kubu B. Oiya, bagaimana aku bisa mengetahui dia memihak kubu mana, mudah saja. Aku selalu aktif di semua kegiatan, jadi aku tau, mana yang sepemikiran dan mana yang se-ideologi.

“Dana dari bigboss selalu mereka gunakan hangout. Bilangnya memang study banding, mencari sesuatu untuk mengisi rubrik bulletin, tapi semuanya hanya bualan semata. Nggak pernah mereka membawa sesuatu pasca study banding.”

“Saya keluar. Saya sudah menerima tawaran pekerjaan dari suatu perusahaan. Kalian yang masih tetap kukuh bertahan di sini, saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian.” Dia pergi dengan meninggalkan sejuta kenangan dan pelajaran. Selama masa masa aku magang di sini, jujur saja, materi materi tentang kepenulisan di dominasi olehnya. Dia yang lebih aktif membagikan ilmunya kepada kami ketiimbang mereka yang ada di kubu J.

Apa aku bilang tentang kubu.
Selama bumi masih utuh, kubu utara, selatan, barat, timur itu akan selalu kalian temui. Dimanapun itu. Bahkan di keluarga sendiripun bisa kalian temui.

Hari itu, aku pulang diiringi rintikan gerimis yang mengundang tangis. Dia telah keluar. Dia lelah. Dia menyerah merubah keadaan di organisasi. Padahal hanya dia seorang yang mampu memompa semangat saya dalam menulis. Hanya dia seorang yang menjadi alasanku untuk tetap bertahan di organisasi itu walau dengan beribu ribu ketimpangan yang terjadi di tubuh kepengurusan.

Komentar

Postingan Populer