Hujan dan Jaket Abu Abu
Di hari itu, aku melihat keadaan di luar sana melalui kaca jendela kelasku. Awan berwarna abu - abu mulai menggelayuti daerah sekolahku. Bisa dipastikan, siang ini, saat jam pulang sekolah, akan ada serbuan dari Negeri Langit bersama pasukan airnya.
Tiga belas menit setelah main lirik pandang dengan awan, akhirnya turun juga pasukan pasukan itu. Kecil memang, tapi kalau datangnya barengan dan tak terhingga jumlah pasukannya, sedikit menciutkan nyali manusia di bumi.
"Sekian pertemuan kita hari ini. Terimakasih sudah datang di kelas saya. Sampai bertemu minggu depan." suara guru fisika favoritku membuyarkan konsentrasiku dalam mengutak-atik rumus. Ini yang paling aku benci, disaat konsentrasi mulai di titik puncak, tiba tiba ada yang mmbuyarkan itu semua dan walhasil, konsentrasiku kembali ke titik nol.
"Busuk! Dasar! Baka memang!" aku menggerutuki diriku sendiri yang susah untuk fokus ke satu titik.
"Sudahlah! Nanti di rumah dicoba lagi. Sekarang, istirahat dulu. Mari pulang." Esti, teman sebangku sejak pertama kali aku mengenal bangku Sekolah Menengah Pertama.
"Nad, aku mau ke apotik dulu. Kamu pulang sendiri nggak apa kan ya?"
"Hhmm..."
"Di luar kayaknya masih hujan. Neduh dulu saja kalau nggak bawa jas hujan."
"Hhmm...."
"Naaaadd.. Kamu kenapa sih? Masih gelo sama soal Fisika tadi?"
"Hhhmm..."
"Naaaaaddd...."
Aku meninggalkan Esti dengan wajah murung. Aku berjalan gontai keluar kelas. Benar saja, hujan masih turun dengan lebatnya. Terpaksa aku harus berteduh dulu.
"Bye Naaad~" Esti pamit pulang. Aku hanya bisa melambaikan tangan. Detik demi detik pun mulai berlalu. Sekolah yang tadinya banyak manusianya sekarang beranjak sepi. Hanya beberapa murid yang masih tinggal untuk berteduh. Diantara beberapa murid yang berteduh itu, aku melihat seseorang yang teramat sangat aku kagumi.
Dengan jaket favoritnya, abu abu, dari jarak puluhan meterpun aku mampu mengenali bahwa itu adalah dia. Dia yang sejak aku menginjakkan kaki pertamakali di sekolah ini, mataku seakan tersihir oleh sosoknya. Dia yang selalu identik dengan earphone dan jaket abunya, selalu aku tunggu-tunggu disetiap harinya. Dia yang mampu membuatku tersenyum walau tugas seberat apapun menanti dalam "Daftar Tugas Mingguan" ku. Diaa....
Sebut saja saya ini secret admirer. Dengan memandangnya saja, hari hari saya menjadi cerah. Badai sedahsyat apapun mampu aku lewati *lebay mode: on
Aku lirik jam di tangan, sudah pukul 14.03 WIB. Sudah satu jam lebih aku menunggu hujan reda. Yang tadinya masih ada yang bertahan untuk menunggu hujan reda, sekarang mereka memberanikan dirinya untuk menerobos pertahanan pasukan air. Aku masih sibuk bermain dengan handphoneku, rasa kantukpun mulai menyerang. Beberapa kali menegakkan kepala, tapi aku selalu gagal untuk mengusir rasa kantuk itu. Akhirnya, dengan tubuh yang sedikit terhuyung kekiri dan kekanan, aku memberanikan diri untuk melawan pasukan air itu.
Aku berdiri dari tempat dudukku di lobi sekolah. Semua barang bawaan aku masukkan ke dalam tas. Entah sampai di rumah nanti penyanggah tasku dalam kondisi yang bagaimana, asal semua buku bukuku terhiindar dari serangan pasukan air, aku tak peduli.
Aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari lobi. Namun...
Saat hendak menerjang hujan, aku merasa ada seseorang bergerak di sebelahku dan saat itu juga, jaket abu abu memayungi kepalaku.
"Daritadi saya perhatikan kamu seperti orang sakit. Kalau sakit, jangan dipaksa hujan hujanan. Mending nunggu hujan reda." suaranya seperti... dia?
"Tapi aku harus pulang. Aku harus istirahat. Aku sudah terlalu capek menunggu hujan reda di sini." aku mencoba melirik siapa gerangan yang rela mengorbankan jaketnya hanya untuk melindungi kepalaku.
Benar saja! Ternyata dia... Gusti, mimpi apa hamba semalam?
"Kalau begitu mari sama sama menunggu hujan reda. Lebih enak menunggu di kantin sambil menyeduh kopi panas. Mau?" ajaknya.
Aku tak bsia menolaknya. Maksud hati ingin menerobos pertahanan hujan apa daya mata sudah tersihir olehnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Abian." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya dan masih memayungiku dengan jaketnya. Padahal sudah kembali lagi ke lobi sekolah..
Tiga belas menit setelah main lirik pandang dengan awan, akhirnya turun juga pasukan pasukan itu. Kecil memang, tapi kalau datangnya barengan dan tak terhingga jumlah pasukannya, sedikit menciutkan nyali manusia di bumi.
"Sekian pertemuan kita hari ini. Terimakasih sudah datang di kelas saya. Sampai bertemu minggu depan." suara guru fisika favoritku membuyarkan konsentrasiku dalam mengutak-atik rumus. Ini yang paling aku benci, disaat konsentrasi mulai di titik puncak, tiba tiba ada yang mmbuyarkan itu semua dan walhasil, konsentrasiku kembali ke titik nol.
"Busuk! Dasar! Baka memang!" aku menggerutuki diriku sendiri yang susah untuk fokus ke satu titik.
"Sudahlah! Nanti di rumah dicoba lagi. Sekarang, istirahat dulu. Mari pulang." Esti, teman sebangku sejak pertama kali aku mengenal bangku Sekolah Menengah Pertama.
"Nad, aku mau ke apotik dulu. Kamu pulang sendiri nggak apa kan ya?"
"Hhmm..."
"Di luar kayaknya masih hujan. Neduh dulu saja kalau nggak bawa jas hujan."
"Hhmm...."
"Naaaadd.. Kamu kenapa sih? Masih gelo sama soal Fisika tadi?"
"Hhhmm..."
"Naaaaaddd...."
Aku meninggalkan Esti dengan wajah murung. Aku berjalan gontai keluar kelas. Benar saja, hujan masih turun dengan lebatnya. Terpaksa aku harus berteduh dulu.
"Bye Naaad~" Esti pamit pulang. Aku hanya bisa melambaikan tangan. Detik demi detik pun mulai berlalu. Sekolah yang tadinya banyak manusianya sekarang beranjak sepi. Hanya beberapa murid yang masih tinggal untuk berteduh. Diantara beberapa murid yang berteduh itu, aku melihat seseorang yang teramat sangat aku kagumi.
Dengan jaket favoritnya, abu abu, dari jarak puluhan meterpun aku mampu mengenali bahwa itu adalah dia. Dia yang sejak aku menginjakkan kaki pertamakali di sekolah ini, mataku seakan tersihir oleh sosoknya. Dia yang selalu identik dengan earphone dan jaket abunya, selalu aku tunggu-tunggu disetiap harinya. Dia yang mampu membuatku tersenyum walau tugas seberat apapun menanti dalam "Daftar Tugas Mingguan" ku. Diaa....
Sebut saja saya ini secret admirer. Dengan memandangnya saja, hari hari saya menjadi cerah. Badai sedahsyat apapun mampu aku lewati *lebay mode: on
Aku lirik jam di tangan, sudah pukul 14.03 WIB. Sudah satu jam lebih aku menunggu hujan reda. Yang tadinya masih ada yang bertahan untuk menunggu hujan reda, sekarang mereka memberanikan dirinya untuk menerobos pertahanan pasukan air. Aku masih sibuk bermain dengan handphoneku, rasa kantukpun mulai menyerang. Beberapa kali menegakkan kepala, tapi aku selalu gagal untuk mengusir rasa kantuk itu. Akhirnya, dengan tubuh yang sedikit terhuyung kekiri dan kekanan, aku memberanikan diri untuk melawan pasukan air itu.
Aku berdiri dari tempat dudukku di lobi sekolah. Semua barang bawaan aku masukkan ke dalam tas. Entah sampai di rumah nanti penyanggah tasku dalam kondisi yang bagaimana, asal semua buku bukuku terhiindar dari serangan pasukan air, aku tak peduli.
Aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari lobi. Namun...
Saat hendak menerjang hujan, aku merasa ada seseorang bergerak di sebelahku dan saat itu juga, jaket abu abu memayungi kepalaku.
"Daritadi saya perhatikan kamu seperti orang sakit. Kalau sakit, jangan dipaksa hujan hujanan. Mending nunggu hujan reda." suaranya seperti... dia?
"Tapi aku harus pulang. Aku harus istirahat. Aku sudah terlalu capek menunggu hujan reda di sini." aku mencoba melirik siapa gerangan yang rela mengorbankan jaketnya hanya untuk melindungi kepalaku.
Benar saja! Ternyata dia... Gusti, mimpi apa hamba semalam?
"Kalau begitu mari sama sama menunggu hujan reda. Lebih enak menunggu di kantin sambil menyeduh kopi panas. Mau?" ajaknya.
Aku tak bsia menolaknya. Maksud hati ingin menerobos pertahanan hujan apa daya mata sudah tersihir olehnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Abian." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya dan masih memayungiku dengan jaketnya. Padahal sudah kembali lagi ke lobi sekolah..


Komentar
Posting Komentar