Kejutan dari Kakak Angkatan

Hari itu hari kedua pengukuhan anggota baru Solidaritas. Acara di hari itu berakhir tepat tengah malam. Sebelum kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat, kami (para anggota baru) diharuskan untuk membuat suatu barisan di depan pintu keluar. Isu isu mulai keluar dikala kami diharuskan untuk melewati pintu keluar secara satu per satu. Dengan membawa lilin. Dan sedikit mengintip keadaan di luar sana, gelap! Menjadilah isu isu yang sudah berkembang di kalangan anggota baru.

Satu per satu mahasiswipun mulai berjalan. Ada kalanya seseorang yang terlalu grogi melewati pintu keluar itu buru buru putar haluan kembali ke antrian paling belakang. Seseorang itu telah termakan oleh isu yang berkembang di kalangan anggota baru yang saat itu sedang berbaris rapi menghadap pintu keluar.

"Semacam uji nyali mungkin. Kita diharuskan kembali ke kamar dengan membawa lilin sambil melewati lorong yang gelap ditemani sebuah lilin. Kemungkinan bakal dibentak bentak macam ospek" begitulah isu yang berkembang.

Mereka (anggota baru) semakin panik kala melihat para seniornya panik juga (entah kenapa mereka panik).
Sampai tiba giliran saya untuk melewati pintu keluar tersebut. Dengan wajah santai yang dibuat buat dan sambil menahan mules akibat gerogi akut, saya berjalan sekuat tenaga.

Berjalan santai.... Melewati pintu keluar... Gelap... Mencoba meraba apa yang akan dilakukan para senior. Dan ternyata, saya dan para anggota baru diarahkan menuju sebuah ruangan lain. Di sana telah menunggu teman teman seperjuangan saya yang lainnya. Mereka duduk sambil menundukkan kepalanya. Masih menerka nerka apa yang akan terjadi, saya mengikuti perintah kakak angkatan untuk duduk di suatu sudut ruangan tersebut.

Sampai semua anggota baru terkumpul di ruangan tersebut, dimulailah ritual malam sebelum tidur. 
Dengan ruangan yang gelap yang hanya diterangi dengan beberapa lilin kecil, kami disuruh menundukkan kepala. Tau apa yang para senior lakukan?

Membaca puisi diiringi nyanyian dari senior yang lain. 

Iya. Membaca puisi. Kalau tidak  keliru, puisinya tentang negeri tercintah ini dan tentang pers. Selesai pembacaan puisi kami disuruh (katanya pers, kok ya mau maunya disuruh suruh) berdiri membentuk lingkaran dan kami ditodong dengan pertanyaan : "Apakah kalian siap menjadi penerus Solidaritas?" ... yah, inti dari pertanyaannya begitulah. Lengkapnya bagaimana, saya lupa.

Begitulah. Efek dari sebuah hipotesis yang berlebihan. Mengira para senior akan berbuat usil nyatanya hanya bertanya tentang kesiapan kami masuk di "rumah" tersebut.

Pelajaran moral nomor 15 : Jangan mudah percaya dengan pikiran busuk.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer