Bus Mini, Lagi?
Adalah kali kedua saya mendapatkan perlakuan buruk dengan transportasi Bus Mini.
Benar benar buruk.
I mean, yang ini sangat sangat sangat buruk.
Saking buruknya, saya sempat menyemburkan kata kata luapan emosi saya kepada pak Kernet dan pak Sopir. (yang menganggap saya makhluk yang lembut, sepatutnya tadi anda melihat bagaiman saya menyemprotkan kata kata itu)
Jumat, Dua puluh satu Maret, Dua ribu tiga belas.
Pukul 06.06 pm tapi belum juga berada di dalam bus. Biasanya kalaupun pulang malam, setidaknya sekitaran pukul itu saya sudah duduk manis di dalam bus menikmati padatnya jalanan A. Yani.
Berbeda dengan malam ini.
Saya benar benar marah dan jengkel terhadap mereka. Entah "mereka" siapa, tapi seseorang harus membayar "itu" semua.
Ada apa dengan orang orang hari ini? Wajah wajah yang biasanya naik bus kota antar propinsi tiba tiba harus naik bus mini. Sudah mini, penumpang yang ingin naik membludak. Apa coba? =___=
Dulu sebelum ini, saya pernah mendapatkan perlakuan tidak wajar dari pak kernet dan sopir. Saya maklumi itu karena di hari itu adalah hari libur (bukan hari Minggu).
Tapi yang satu ini benar benar berbeda. Saya sudah tidak tahan dengan ke-egoisan mereka yang menaikkan penumpang sekenaknya, sehingga mengakibatkan saya memuncratkan beberapa kata yang tidak bergitu "nyelekit" di telinga orang.
Ditambah lagi, sang Kernet mau mengkorupsi uang kembalian saya.
Entah memang benar benar lupa, atau "akan" disengaja lupa, uang kembalian saya belum dikembalikan sampai saya tiba di tempat pemberhentian saya.
Walaupun jumlahnya tidak terlalu besar, tapi yang pointnya adalah bukan di ukuran besar atau kecilnya, namun kejujuran pak kernet dan sopir. Kalau misal saya tidak membuka mulut saya dan berkata "Pak, kembalian saya?" mungkin pak kernet akan membawa uang kembalian saya sampai titik pemberhentian bus mini yang terakhir.
Benar benar buruk.
I mean, yang ini sangat sangat sangat buruk.
Saking buruknya, saya sempat menyemburkan kata kata luapan emosi saya kepada pak Kernet dan pak Sopir. (yang menganggap saya makhluk yang lembut, sepatutnya tadi anda melihat bagaiman saya menyemprotkan kata kata itu)
Jumat, Dua puluh satu Maret, Dua ribu tiga belas.
Pukul 06.06 pm tapi belum juga berada di dalam bus. Biasanya kalaupun pulang malam, setidaknya sekitaran pukul itu saya sudah duduk manis di dalam bus menikmati padatnya jalanan A. Yani.
Berbeda dengan malam ini.
Saya benar benar marah dan jengkel terhadap mereka. Entah "mereka" siapa, tapi seseorang harus membayar "itu" semua.
Ada apa dengan orang orang hari ini? Wajah wajah yang biasanya naik bus kota antar propinsi tiba tiba harus naik bus mini. Sudah mini, penumpang yang ingin naik membludak. Apa coba? =___=
Dulu sebelum ini, saya pernah mendapatkan perlakuan tidak wajar dari pak kernet dan sopir. Saya maklumi itu karena di hari itu adalah hari libur (bukan hari Minggu).
Tapi yang satu ini benar benar berbeda. Saya sudah tidak tahan dengan ke-egoisan mereka yang menaikkan penumpang sekenaknya, sehingga mengakibatkan saya memuncratkan beberapa kata yang tidak bergitu "nyelekit" di telinga orang.
Ditambah lagi, sang Kernet mau mengkorupsi uang kembalian saya.
Entah memang benar benar lupa, atau "akan" disengaja lupa, uang kembalian saya belum dikembalikan sampai saya tiba di tempat pemberhentian saya.
Walaupun jumlahnya tidak terlalu besar, tapi yang pointnya adalah bukan di ukuran besar atau kecilnya, namun kejujuran pak kernet dan sopir. Kalau misal saya tidak membuka mulut saya dan berkata "Pak, kembalian saya?" mungkin pak kernet akan membawa uang kembalian saya sampai titik pemberhentian bus mini yang terakhir.


Komentar
Posting Komentar