Ber-SMS Ria dengan Dosen
Ngaku! Yang masih grogi sewaktu akan mengirim sms ke dosen, angkat kedua kakimu.
Ngaku! Yang harus keringet dingin sewaktu mengirim sms ke dosen, angkat kedua lubang hidungmu.
Ngaku! Yang ogah ogahan ketika disuruh temanmu untuk ber-texting (sms) ria dengan dosen. angkat kedua jempol kakimu.
Sewaktu menjabat menjadi koordinator kelas, mau tidak mau, anda harus sering sering berkomunikasi dengan dosen, salah satunya adalah mengirim sms. Ber-sms ria dengan seorang dosen menjadi satu momok besar bagi para mahasiswa. Terlebih mahasiwa baru. Mereka yang masih terkontaminasi dengan kehidupan alay di bangku SMA, akan meresa grogi ketika harus berkomunikasi dengan dosen melalui sms.
Mereka yang terbiasa menggunakan b4HaS4 94hOlL di setiap aktivitas smsnya, pasti akan mengalami tekanan batin yang luar biasa ketika hendak mengirim sms ke dosen. Terlebih dosen yang hendak ia hubungi adalah dosen Bahasa Indonesia yang sangat menjunjung tinggi EYD. Muahahah.. XD
Terkadang, jika dosennya terlalu luwes, sudah dianggap "konco dewe" oleh mahasiswa, mereka (mahasiswa) lupa akan batasan batasan antara mahasiswa dengan dosen. Tata krama di antara mereka mendadak kabur entah kemana. Sikap sopan-santun terhadap dosen sedikit demi sedikit luntur.
Dekat dengan dosen itu boleh, BOLEH BANGET MALAH. (Itung itung buat investasi nilai) *skip it*
Dekat dengan dosen itu boleh, tapi tata kramanya juga harus dijaga.
Belajarlah membedakan mana gaya sms yang untuk teman dan mana gaya sms yang untuk dosen. Walaupun dosennya sebaik apapun beliau, tetap harus ada tata krama ketika berkomunikasi dengan beliau. Baik lisan maupun tulisan.
Jangan salah! Si penulis ini juga masih meraba raba, menerka nerka, mana gaya sms yang cocok untuk teman, dosen, tukang jual pulsa, dan.. suami *lho?*
Solusinya adalah cobalah dari sekarang mengenal yang namanya bahasa resmi. Bisa dijumpai di berbagai makalah, paper, tesis, sripsi. Mulailah berteman dengan bacaan bacaan seperti itu.
Jika biasanya anda menuliskan sms dengan gaya yang seperti ini : "P4K MuUaAPhH, h4rI Ni3h AkU gA9G BiSA HadiR" (?)
Nah, mulailah dirubah gaya gaya kepenulisan yang seperti itu. Tidak hanya bentuk tulisannya saja, tetapi juga struktur bahasanya juga.
"Assalammu'alaikum. Pak Hanafi, maaf hari ini saya tidak bisa hadir di kelas bapak.
-Mufidah-"
Jangan lupa, selalu sertakan nama setiap kali mengirim sms ke dosen. Karena dosen tidak akan pernah menyimpan nomor handphone-mu.
Sudah cukup membuat dosen tertawa bahkan sampai menangis melihat gaya smsmu. Sudah cukup membuat dosen selalu curhat ke para mahasiswa baru tentang bagaimana etika mengirim sms ke dosen. Sudah cukup.
Ngaku! Yang harus keringet dingin sewaktu mengirim sms ke dosen, angkat kedua lubang hidungmu.
Ngaku! Yang ogah ogahan ketika disuruh temanmu untuk ber-texting (sms) ria dengan dosen. angkat kedua jempol kakimu.
Sewaktu menjabat menjadi koordinator kelas, mau tidak mau, anda harus sering sering berkomunikasi dengan dosen, salah satunya adalah mengirim sms. Ber-sms ria dengan seorang dosen menjadi satu momok besar bagi para mahasiswa. Terlebih mahasiwa baru. Mereka yang masih terkontaminasi dengan kehidupan alay di bangku SMA, akan meresa grogi ketika harus berkomunikasi dengan dosen melalui sms.
Mereka yang terbiasa menggunakan b4HaS4 94hOlL di setiap aktivitas smsnya, pasti akan mengalami tekanan batin yang luar biasa ketika hendak mengirim sms ke dosen. Terlebih dosen yang hendak ia hubungi adalah dosen Bahasa Indonesia yang sangat menjunjung tinggi EYD. Muahahah.. XD
Terkadang, jika dosennya terlalu luwes, sudah dianggap "konco dewe" oleh mahasiswa, mereka (mahasiswa) lupa akan batasan batasan antara mahasiswa dengan dosen. Tata krama di antara mereka mendadak kabur entah kemana. Sikap sopan-santun terhadap dosen sedikit demi sedikit luntur.
Dekat dengan dosen itu boleh, BOLEH BANGET MALAH. (Itung itung buat investasi nilai) *skip it*
Dekat dengan dosen itu boleh, tapi tata kramanya juga harus dijaga.
Belajarlah membedakan mana gaya sms yang untuk teman dan mana gaya sms yang untuk dosen. Walaupun dosennya sebaik apapun beliau, tetap harus ada tata krama ketika berkomunikasi dengan beliau. Baik lisan maupun tulisan.
Jangan salah! Si penulis ini juga masih meraba raba, menerka nerka, mana gaya sms yang cocok untuk teman, dosen, tukang jual pulsa, dan.. suami *lho?*
Solusinya adalah cobalah dari sekarang mengenal yang namanya bahasa resmi. Bisa dijumpai di berbagai makalah, paper, tesis, sripsi. Mulailah berteman dengan bacaan bacaan seperti itu.
Jika biasanya anda menuliskan sms dengan gaya yang seperti ini : "P4K MuUaAPhH, h4rI Ni3h AkU gA9G BiSA HadiR" (?)
Nah, mulailah dirubah gaya gaya kepenulisan yang seperti itu. Tidak hanya bentuk tulisannya saja, tetapi juga struktur bahasanya juga.
"Assalammu'alaikum. Pak Hanafi, maaf hari ini saya tidak bisa hadir di kelas bapak.
-Mufidah-"
Jangan lupa, selalu sertakan nama setiap kali mengirim sms ke dosen. Karena dosen tidak akan pernah menyimpan nomor handphone-mu.
Sudah cukup membuat dosen tertawa bahkan sampai menangis melihat gaya smsmu. Sudah cukup membuat dosen selalu curhat ke para mahasiswa baru tentang bagaimana etika mengirim sms ke dosen. Sudah cukup.



Wah, pinter banget nih nulis blog-nya.
BalasHapusSalam kenal.
Ada juga loh yang merangkum Lima hal yang harus diperhatikan mahasiswa saat mengirim SMS kepada dosennya. Mungkin bisa dijadikan referensi juga.
Selamat membaca.
Oh, syukurnya dulu saya belum punya haep
BalasHapus