KRS Hanya Untuk Para Beruang
Teruntuk mahasiswa Tarbiyah, pernah merasa diperlakukan tidak adil ketika hendak melakukan proses KRS? Apakah menurutmu sistem KRS yang diterapkan sekarang hanya menguntung beberapa pihak saja?
KRS atau biasa kita kenal dengan Kartu Renca Studi adalah sejatinya bukan berbentuk kartu. Melainkan hanyalah sebuah sistem operasi dimana kita dapat mengatur sesuka hati kita tentang jadwal kuliah untuk satu semester ke depan. "Sesuka hati" ? Benarkah?
Pada nyatanya, sistem kebebasan mengatur jadwal kuliah "sesuka hati" itu hanya berlaku bagi mereka yang ber-uang, bagi mereka yang berduit. Syarat sebelum memulai proses KRS adalah kita diwajibkan membayar biaya daftar ulang terlebih dahulu. Setelah kita membayar biaya daftar ulang, baru kita bisa menjadwal mata kuliah kita.
Lalu apa yang dipermasalahkan?
Masalahnya adalah masa masa pembayaran daftar ulang itu bersamaan dengan masa masa proses KRS. Jadi bagi mereka yang berduit, setelah pulang dari bank BTN untuk membayar biaya daftar ulang langsung bisa melakukan proses KRS. Bagi mereka yang belum mebayar biaya daftar ulang, sudah pasti tidak bisa melakukan proses KRS.
Yang sering terjadi adalah banyak dari teman teman mahasiswa yang membayar biaya daftar ulang paling buncit kekurangan kelas karena kelas kelas sudah diambil alih oleh mereka yang membayar biaya daftar ulang di awal. Efeknya adalah mereka yang kehabisan kelas harus memohon mohon pada pihak akademik untuk membuka kelas tambahan bagi mereka yang kekurangan.
"Sistem sks di Tarbiyah kita sih kurang menguntungkan menurutku, mahasiswa diwajibkan atau terpaksa bayar awal dan juga yg IP nya tinggi ngga bisa nambah SKS biar kuliahnya cepet selesai.. Juga kan kasian teman teman yang bisanya bayar belakangan. Temenku pernah juga curhat gitu. Dia harus bolak balik kantor akademik untuk dibukakan kelas." Dinda, salah satu mahasiswa Tarbiyah semester 3.
Padahal di kampus lain, sistemasi KRS bukan seperti ini. Melainkan ada perbedaan waktu antara membayar biaya daftar ulang dengan proses KRS. Secara serempak mahasiswa diwajibkan membayar biaya daftar ulang terlebih dahulu (dengan waktu yang ditentukan) dan setelah itu barulah secara serempak pula mereka melakukan proses KRS. Seperti yang diungkapkan oleh Febri, salah satu mahasiswa Universitas Tujuh Belas Agustus, "Kan byr SPP itu sudah ada kalendernya (masanya,red) sendiri. Terus KRS-an juga sudah ada kalendernya sendiri."
Hal serupa juga dikatakan oleh Tya, salah satu mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, "Ya dibedakan waktunya lah, ada masanya sendiri sendiri."
Rebutan kelas? Ya memang. Tapi ini rebutan yang adil. Sebab apa? Karena strat yang diambil oleh antar mahasiswa sama. Tidak ada yang mendahului. Sedangkan sistem KRS di fakultas Tarbiyah yang saat ini diterapkan adalah sistem yang menyediakan start awal bagi mereka yang berduit. Lalu dimana letak "sesuka hati" -nya kalau toh pada akhirnya kelas hanya diperuntukkan bagi mereka yang berduit?


Komentar
Posting Komentar