Flying Colours, Perjuangan Anak SMA Masuk Universitas Ternama

Setelah hampir 3 hari berturut  turut  nonton film film Bollywood, hari ini saya mulai beranjak dari film India. Dorama menjadi pilihan saya diantara koleksi film film baru yang lain. Direkomendasikan oleh seorang teman yang sedang berusaha buat manjangin jenggot, Haikal Azharil anak Tuban.

Flying Colours, pertama kali baca judulnya, saya kira ini film bakal cerita tentang laying layang yang berwarna warni yang lagi berusaha buat terbang di udara. Failed! Pikiran liar.
Belakangan baru tau bahwa Flying Colous adalah sebuah idiom.

Flying Colours adalah sebuah film yang bercerita tentang seorang anak yang diremehkan mimpinya oleh orang orang sekitarnya. Sebagai adegan pembuka, kita bakal diperkenalkan oleh Sayaka Kudo kecil yang suka menyendiri. Entah apa masalahnya, tapi setiap kali dia masuk ke sekolah baru, dia selalu tidak mempunyai teman. Sampai suatu ketika, dia melihat ada 2 orang murid sedang mengenakan seragam dari salah satu sekolah yang menurutnya seragam tersebut sangat kawaiii, lucu, cute, manis. Melihat anaknya yang tertarik dengan seragam tersebut, ibunya pun menawarkan Sayaka untuk pindah ke sekolah tersebut, Minglan Girls High School. Dari namanya sudah terbayang, kan isinya cewek cewek semua? Ibunya, yang biasa dipanggil oleh Sayaka Aachan berkata, "Walaupun kamu tidak belajar sekalipun, kamu tetap bisa mendapatkan rekomendasi untuk kuliah di universitas." Gara  gara pernyataan ini, Sayaka menjadi murid yang tidak pernah belajar sama sekali. Nilainya menjadi nilai yang terendah di sekolahnya.

Suatu hari ibunya meminta Sayaka untuk mengikuti tes ujian masuk universitas. Sebelum mengikuti tes, Sayaka diminta untuk kursus di sebuah bimbel sederhana (I couldnt find the name of the courses), yang jelas bimbel ini hanya memiliki seorang guru (setidaknya ituyang diceritakan di film ini. Guru yang terlihat Cuma dia). Namanya Tsubota. Dari sini, saya merasa ceritanya sedikit de javu. Mengikuti jalan cerita film ini, mengingatkan saya pada salah satu dorama yang berjudul GTO, Great Teacher Onizuka. Yang sama dari kedua film ini adalah sama sama menampilkan sosok guru yang selalu menyebarkan aura positif. Sejelek apapun muridnya, serendah bagaimanapun pengetahuan si siswa, sang guru tetap bisa menemukan titik positif dari tiap murid murid yang dibimbingnya. Jadi, sudah bisa tergambarkan, bukan, bagaimana jalan ceritanya bakal berlanjut?

Ya.. cerita mainstream seperti biasanya. Sang Guru selalu memberikan nilai nilai positif pada Sayaka, sehingga Sayaka sedikit demi sedikit tingkah lakunya berubah, nilainya mulai membaik. Tujuan Sayaka adalah untuk bisa lolos tes ujian masuk universitas Keio (saya belum melakukan pencarian lebih tentang kampus ini, tapi sepertinya kampus ini menjadi salah satu kampus favorit di Tokyo. Saya jadi berpikir, jangan jangan ini film sedikit didomplengi iklan kampus Keio. Hmm.)

Well, selama film berjalan, mood Sayaka sering naik turun. Tapi Tsubota sensei selalu bisa memotivasi Sayaka dengan sangat baik. Yang bisa diambil dari percakapan Tsubota sensei dengan Sayaka selama film berlangsung adalah jadilah guru yang selalu bisa melihat sisi positif dari seorang murid. Meskipun sisi positif tersebut hanya 0,5%. Melakukan pendekatan dengan murid muridnya dengan cara ikut menaruh minat pada apa yang disukai oleh murid muridnya. Yah, begitulah intinya. Ada satu kalimat yang jadi favorit saya, Tidak ada murid yang tidak bisa. Yang ada hanyalah guru yang tidak bisa mengajarinya.
Itu Sayaka dengan guru bimbelnya. Bagaimana dengan keluarganya?

Sayaka merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Ryuta merupakan adik pertamanya, dan Mayumi adalah adik keduanya. Entah ini tradisi Jepang atau bagaimana, tapi di awal cerita, sang Ayah lebih menaruh harapan pada anak laki lakinya, Ryuta. Ayahnya mati matian membela Ryuta agar menjadi pemain Baseball professional, yang merupakan mimpinya dulu. Sang Ayah benar benar tidak mau tau dengan kondisi kedua putrinya. Yang dipikirkan hanya Ryuta seorang.

Sedangkan sang Ibu,. Well, seperti pentokohan ibu pada umumnya. Tak beda jauh dengan Tsubota sensei, sang Ibu juga bisa melihat sisi positif dari Sayaka. Berkali kali dipanggil kepala sekolah akibat tingkah buruk Sayaka, tak pernah sekalipun beliau ragu dengan kesuksesan Sayaka. Ada satu kalimat dari ibunya yang membuat mata saya basah kuyup dibuatnya. Bahwa kebahagiaan seorang ibu hanya terletak pada senyum manis anaknya.

Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang seorang gadis SMA yang tidak pernah belajar yang ingin masuk universitas top di Jepang. Dia memulai dari nol ketika sudah masuk SMA. Bakal disuguhkan oleh sang sutradara, bagaimana rasanya mimpi kita diremehkan, bagaimana rasanya berjuang melawan diri sendiri, bakal disuguhkan bagaimana seharusnya seorang ibu bertindak terhadap anak anaknya. Selalu mempercayai anak anaknya, mengingatkan saya pada ibu Totto-chan, Gadis cilik di Jendela. Aahhh~ pikiran saya mulai nggak focus. Sebaiknya, saya akhiri saja cerita tentang dorama tahun 2015 ini. Kalau ingin menoton filmnya, silahkan datang ke rumah sambil bawa flashdisk. Well, ini illegal memang. Tapi selama kegiatan saya tidak melibatkan uang, tak masalah menurut saya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer