Tentang KKN (Bagian 2)

Mumpung masih anget anget tai ayam.

Buka BBM, isinya perpisahan KKN. Buka WA, isinya perpisahan KKN. Buka Line, isinya perpisahan KKN. Lagi musim perpisahan KKN, hati hati, jangan sampai keblabasan berpisah dengannya. :v

Desa Genjor, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, bakal menjadi salah satu tempat yang tak terlupakan di hati dan pikiran anggota KKN PAR 62 UIN SUNAN AMPEL Surabaya.

Terlalu banyak genangan, eh, kenangan tentang desa yang satu itu. Memang betul, mata kuliah KKN menjadi mata kuliah yang spesial sebelum skripsi. Paling spesial.

Yang awalnya masih sama sama jaga image, semakin ke sini, semakin runtuh topeng topeng yang menutupinya.

Yang awalnya terkesan "horror" untuk menjemur cucian di luar,  semakin ke sini semakin "ugal" menjemurnya. Rebutan hanger. Oh tentu saja, jangan lupakan tragedi Lety "merusakkan" jemuran tetangga gegara Inbox.

Yang awalnya ogah mandi sebelahan sama anak cowok, semakin ke sini semakin "gak ngurus". 😂 karena yang antri banyak.

Yang awalnya semangat masak bareng bareng, semakin ke sini semakin nggak ada orang yang mau masak. 😂

Yang awalnya semangat jamaah sholat subuh, semakin ke sini subuhnya semakin "ekstrem" 😂

Dan...
Yang awalnya ngakak, shock, campur aduk mendengar cara warga RT 08 mengamini doa sang Imam, semakin ke sini, semakin biasa.

Saya pribadi sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari KKN PAR 62 UINSA 2017. Yaaaaa walaupun banyak kenangan yang bikin kesel, tapi memang begitulah kalau bekerja sama dengan banyak kepala dan baru kenal. Jika mendengar kisah dari posko posko KKN yang lain, saya benar benar bersyukur bisa KKN di Genjor.

Ada yang jadi alarm sholat subuh, selalu mengingatkan sholat satu sama lain, selalu ramai baca Al Qur'an setelah sholat maghrib berjamaah, selalu makan bareng di 3 nampan, kalau ada yang belum makan selalu disisihkan. So sweet lah kalian 😍 ada Hafidzah pula 😍 duuuh makin adem 😍

Terima kasih sudah menjadi salah satu kenangan terindah. Beribu maaf dihaturkan dari saya apabila saya pernah menyakiti kalian, baik lisan maupun perbuatan.

Aaaaamin, ojok royokan, istighfar pean, Aice, lontong sayur, rebutan hanger, rebutan antri kamar mandi, bocah bocah Genjor yang dihari pertama kita sudah diserbu minta dilesi, cagak listrik yang disangka tower dan menara Eiffel nya Genjor, dan game ToD, bakal jadi kata kunci pemicu otak kita untuk mengeluarkan kenangan kenangan tentang KKN di Desa Genjor.

Fau, sang Kordes yang terlalu strong pasca lengser dari jabatan Kahima PBA.

Aziz, sang Wakordes yang lihai bermain drama tentang penyakit perut.

Aan, yang luwesnya tiada tara ketika menjadi MC dan ketika bertamu ke tetangga ketemu ibu ibu.

Malik, yang mempunyai tugas paling penting diantara anggota kelompok yang lain, yakni membaur bersama warga lewat ngopi.

Ishfar, yang juga mempunyai tugas yang sangat penting sama seperti Malik.

Muiz, yang selalu cerewet masalah nasi.

Lety, yang dengan rela, tulus, ikhlas, mengorbankan dirinya menjadi ibu Sekretaris.

Rossy, yang memperkenalkan bahasa baru kepada kita, "gaaaweeduwee (guwede), laaawemu (lemu)", ya begitulah.

Lely, yang belakangan sensinya makin memuncak gegara PMS. Senggol dikit, bacok.

Lifa, yang selalu dikira masih anak SMP.

Ila, yang selalu menghemat suara emasnya. Sekalinya ngomong, langsung celekit.

Nurul, bu Nyai, bu Yai, yang mencetuskan slogan "istighfar pean."

Laila, yang biasa dipanggil Mpok Lela, chef terhandal di kelompok 62.

Rohma, yang selalu parno dengan semua muanya.

Mia, yang selalu bikin "gemes" orang.

Maaf dan terima kasih.

Komentar

Postingan Populer