Fotografi dan Gravitasi

Oke, selain menjadi seorang cewek yang paham IT, menjadi seoarng cewek yang hobi fotografi juga menjadikan saya pusat gravitasi di lingkungan saya.

Pasca bergabung di ekstrakurikuler Jurnalistik sewaktu SMK, saya semakin jatuh cinta dengan dunia fotografi. Ya, walaupun sampai saat ini saya belum ada pikiran untuk menjadikan hobi saya ini menjadi lebih serius, mendaftarkan diri di khursusan fotografi agar menjadi seorang yang professional misalnya. Belum. Belum berpikir ke arah situ.

Dari SMK juga saya sudah dikenal sebagai seseorang yang hobi memotret tapi paling nggak suka dipotret. Aneh? Ada memang beberapa orang yang mengatakan seperti itu. Hobi moto, tapi nggak suka difoto. Weits, tapi disitulah kelebihannya. Saat ada acara, ketika saya ditugaskan menjadi di bagian dokumentasi, saya bisa lebih fokus ke kerjaan saya. Nggak bingung dan ribet tentang saya-yang-nggak-ada-fotonya-sama-sekali. Karena resiko menjadi seorang dokumentasi adalah tidak ada foto mereka (ada, tapi cuma bisa dihitung jari). Berbeda dengan kebanyakan orang yang mempunyai prinsip, "Aku harus ada fotonya. Yang cantik. Yang ganteng."

Fotgrafi sudah menjadi bagian dari hidup saya. Ketika ada acara, saya pasti dipilih untuk diletakkan di bagian dokumentasi. Ketika teman saya ingin hunting foto di suatu tempat, mereka pasti mengajak saya untuk menjadi fotografernya. Karena teman teman saya lebih suka menjadi modelnya dan saya lebih suka menjadi tukang fotonya. Gaya gravitasi saya muncul ketika saya berada di balik lensa untuk memotret obyek tertentu. Lingkungan sekitar saya tertuju pada saya karena saya memegang kamera dan siap memotret sesuatu. 

Jiwa seorang fotografer pasti nggak jauh jauh dari hobi mereka memfoto kondisi sekitar. Mengabadikanya dalam foto untuk bisa dipandang di hari kemudian. Kadangkala hobi tersebut terbentur oleh suatu hal, sehingga pengambilan gambarnya kurang maksimal. Sebut saja, perlengkapan kamera yang kurang memadai. Atau jika di jaman sekarang orang lebih mengandalkan smartphone nya sebagai pengganti kamera, maka masalah utama adalah kamera smartphone mereka yang masih dibawah rata rata.

Solusinya adalah Luna Smartphone
Saya pribadi kadang suka minder ketika melihat teman teman saya dengan mudahnya mengeluarkan smartphone mereka lalu menjepret kondisi sekitar dan menghasilkan kualitas gambar yang luar biasa. Ah~ ingin rasanya itu smartphone saya bawa pulang, saya buat foto foto di lingkungan saya. 

Kadang kala juga ketika lagi asyik berkumpul bersama teman, lalu saya ingin mendokumentasikan keasyikan suasana saat itu, saya musti pinjam smartphone teman terlebih dahulu. Karena bila menggunakan smartphone saya, foto yang dihasilkan kurang maksimal.

Ah~ misalkan Luna Smartphone sudah ditangan saya, saya nggak perlu repot repot lagi meminjam kamera teman karena Luna Smartphone memiliki kamera yang setara dengan iPhone 6. 

Smartphone yang diproduksi oleh Foxconn ini mengusung kamera utama 13MP dan 8MP untuk kamera depan. Dilengkapi dengan Sony 1300 million pixel sensor dan bright 2.0 Aperture lens memudahkan kita untuk mengambil foto disegala macam kondisi cahaya. Ngga perlu bingung lagi ngatur ISO ketika akan memfoto di malam hari atau di tempat gelap. Untuk kamera depan juga dilengkapi dengan 80 derajat viewing angle yang memudahkan kita untuk take selfie atau groufie bareng temen temen dan yang pasti nggak perlu khawatir lagi temen kita ke-crop atau nggak masuk frame. Apalagi ditambah dengan internal storage sebesar 64 GB membuat kita bisa mengambil sebanyak foto yang kita mau, nggak perlu khawatir kehabisan memori penyimpanan.

Ini nih perbandingan antara foto yang diambil dengan kamera iPhone dangan foto yang diambil dengan Luna Smartphone


Lebih terang foto yang menggunakan kamera Luna, bukan?


So, #BetheGravity with #SmartphoneLuna

Komentar

  1. Great!
    Duh keren reviewnya.. jadi mupeng. Kameranya bening gitu, sebening mantan *eh..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer