Fangirling sama Ahok
Harus saya akui, nonton A Man Called Ahok itu 83,3% fangirling, sisanya penasaran sama jalan ceritanya. Sepertinya lebih baik baca bukunya langsung ketimbang nonton filmnya.
Film kedua setelah Laskar Pelangi yang mengambil latar tentang Belitung tahun 80an. Jujur saja, sinematografinya terlihat biasa, ceritanya juga sebenernya biasa aja. Lebih cocok dikatakan film biopik ayahnya Ahok ketimbang Ahoknya sendiri. Hehe. 65% ceritanya berkisah tentang Ayahnya Ahok. Bagaimana seorang Kim Nam, mendiang ayah Ahok, yang benar benar mangayomi warganya, rakyatnya, dan sangat disegani oleh warga kampungnya. Dari situ kita tau bagaimana watak seorang Ahok dididik dari kedisiplinan orang tuanya. Berempati, selalu itu yang menjadi dasar ayahanda dalam menjalani hidup. Bagaimana sifat Ahok yang lebih peduli dengan rakyatnya ketimbang hidupnya sendiri ternyata menurun dari watak ayahnya yang lebih sering memikirkan masyarakat dulu ketimbang kondisi ekonomi keluarganya sendiri.
Daniel Mananta bisa dikatakan berhasil dalam memproyeksikan seorang Ahok. Gaya bicaranya, suaranya yg serak serak basah, cara jalannya, cara membenarkan kaca matanya, hampir mirip lah sama Pak Basuki. Tapi tetap saja menurut saya postur tubuh Daniel ketinggian. Tentang sosok ayahnya pun, perubahan dari Denny Sumargo, ayahnya ketika Muda ke aktor Cina kawakan, Chew Kin Wah, ayahnya Ahok ketika lanjut usia, menurut saya juga terlalu jomplang. Yang terlihat konsisten hanya karakter Ibunya Ahok, yang masa mudanya diperankan oleh Eriska Rain sedangkan masa senjanya diperankan oleh Sita Nursanti. Eriska Rain tampil luar biasa berisi (gendut) sukses memerankan sosok ibunya Ahok. Saya jadi teringat review seorang teman tentang film ini. Inkonsistensi perubahan karakter.
Inkonsistensi perubahan karakter membuat film ini sedikit cacat. Belum lagi ending yang terlalu diburu waktu.
Tapi memang susah kalau sampai sedetil itu. Sempat saya mengobrol santai masalah peran Daniel sebagai Ahok. "Daniel itu postur tubuhnya ketinggian, coba kalau Dion Wiyoko." || "Terlalu manly.". Yang pada akhirnya membuat diskusi kembali ke satu nama, Daniel. Meskipun dengan berbagai kekurangan di sana sini, sudah bisa membawakan logat Belitung dengan baik pun sudah sangat luar biasa film ini.
Adegan pembuka dari film ini adalah cuplikan dari pidato Ahok yang menyerukan para demonstran untuk tidak memenuhi Mako Brimob pasca putusan sidangnya. Ya gimana nggak langsung basah mata ini. Rindu serindu rinduhya sama Ahok sampai denger suaranya saja sudah langsung nangis. Ada dua kasus besar di negeri ini yg sempat menyita perhatian saya secara pribadi dan keluarga saya. Kasusnya Ariel tahun 2012 dan kasusnya Ahok. Saya beruntung mempunyai orang tua yang sama sama satu rasa untuk urusan genre musik dan politik. Ibu saya suka sekali dengan lagu lagu Peterpan. Lirik lirik cerdas yang lahir dari tangan terampil Ariel berhasil membuat ibu saya takluk pada musiknya Peterpan. Begitu juga dengan gaya kepemimpinannya Ahok.
Di pertengahan film, ceritanya mulai monoton. Beberapa kali saya mengecek hp untuk menghilangkan rasa bosan. Bahkan saya sampai cek IG Story nya teman teman di tengah tengah film. Di sini lebih banyak dramanya. Tentang perebutan prinsip untuk menjalankan perusahaan tambang milik ayahnya Ahok. Antara Ahok dan ayahnya sama sama punya prinsip dan gagasan yg kuat. Seperti drama pada umumnya.
Di akhir cerita mulai mengusik sedikit awal karir perjalanan seorang Ahok sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dari mulai dia masuk DPR, jadi Bupati Belitung, sampai berhasil menjadi orang nomor satu di Jakarta.
Saya kira bakal lebih banyak ceritanya beliau ketika menjabat sebagai gubernur. Mungkin karena akan terlalu kental tentang politiknya, jadi dipercepat ceritanya. Film ini ditutup dengan suara ibu Vero yg membacakan surat dari Ahok yang ditulis dari balik jeruji besi Mako Brimob. Basah lagi lah mata ini.
Baru kali ini saya nonton film penontonnya didominasi sama oma dan opa. Keturunan Cina. Kebetulan aja tadi satu teater bioskop mayoritas orang keturunan Cina. Matanya sipit sipit dan putih putih. Mana bangku yg saya booking sebelahan sama oma oma, yang kalian tau sendiri ketika ibu ibu monton film jadinya gimana. Dikomentarin filmnya. Astaga.
Saran saya: Sepertinya A Man Called Ahok jauh lebih baik dalam bentuk karya tulis ketimbang sinematografi. Filmnya terkesan dipaksakan dan diburu waktu.
PS: Hallo, Pak Ahok. Nanti di bulan Januari kita cerita tentang apa yang terjadi pada Jakarta selama kamu berada di sana.
Trailernya ada di bawah...



Komentar
Posting Komentar