Bird Box

Sepertinya Netflix benar benar menerapkan teori ATM. Amati, Tiru, Modifikasi. Amati film A Quite Place, Tiru konsep filmnya, Modifikasi jalan ceritanya.

Nggak bisa dipungkiri, ketika nonton Bird Box, pasti kebayang bayang film A Quite Place. Jika di Quite Place lebih terfokus ke indra pendengaran, di Bird Box lebih fokus ke indra penglihatan. Hmm.. Mungkin perlu satu postingan khusus membahas dua film besar ini.

Tapi yang jelas, Netflix di penghujung tahun 2018 berhasil menghadirkan film ciamik. Dalam satu minggu perilisan di kanal streaming film Netflix, film Bird Box berhasil memecahkan rekor telah distreaming sebanyak 45 juta kali. Filmnya nggak seberapa rumit, tapi berhasil menggaet rasa deg degan para penonton.



Malorie (Sandra Bullock) diawal film diceritakan mempuyai 2 anak berusia 5-6 tahunan sedang memberikan arahan kepada mereka karena meraka akan melakukan perjalanan panjang. Anehnya, ketika keluar rumah, mereka menutup mata mereka dengan kain. Lalu mereka berjalan mengikuti benang yang sudah terikat ke sebuah perahu. Dan, dimulailah perjalanan panjang mereka yang akan memakan waktu selama 2 hari, di atas perahu kecil, di sungai antah berantah, dengan mata tertutup. Hm..

Kemudian alur ceritanya bergerak mundur ke 5 tahun sebelum Malorie melahirkan anaknya. Diceritakan ada sebuah laporan di Rusia yang menyebabkan orang orang bunuh diri secara masal tanpa diketahui penyebabnya. Malorie masih belum ada rasa khawatir karena apapun wabah yang menyebabkan mereka bunuh diri secara masal, masih terjadi di Rusia. Namun kemudian beberapa hari setelah pemberitaan tersebut, wabah itu akhirnya datang ke Amerika. Ketika Malorie pergi ke rumah sakit untuk cek kandungan, dia melihat sendiri ketika wabahnya memakan korban. Didepan mata Malorie, ada seorang perempuan tak berdosa, dengan tatapan kosong, membenturkan kepalanya sendiri ke dinding kaca. Malorie panik, menyuruh adiknya menyetir secepat mungkin. Keadaan di luar rumah sakit sudah, chaos, hectic, semua orang panik. Disaat suasana sedang panik paniknya, adiknya tiba tiba mengigau melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Malorie. Ternyata ditengah perjalan adiknya juga terkena wabah tersebut yang membuat dia menabrakkan dirinya sendiri ke truk yang  sedang lewat.

Alurnya memang maju mundur, kadang kita dibawa ke masa kini dimana Malorie hanya hidup bertiga dengan kedua anaknya, kadang kita dibawa ke masa lampau dimana wabahnya masih baru pertama kali menyebar. Tapi bukan tanpa alasan sang sutradara memilih alur maju-mundur. Karena disetiap adegan cerita mundur, kita perlahan lahan diberi tahu alasan di balik setiap objek yang ada di masa kini. Seperti, kenapa kaca kaca jendela rumah tempat tinggal Malorie masa kini tertutup oleh koran, kenapa setiap akan keluar rumah mereka wajib memakai penutup mata, kenapa Malorie punya dua anak yang dijaganya sepenuh hati, kenapa hanya mereka bertiga yang selamat dan bertahan hidup sendiri.

Dan di akhir cerita pun, sang sutradara nggak lupa memberikan sentuhan emosional. Saya berhasil dibuatnya haru dengan endingnya. Walaupun ceritanya tidak terselesaikan (Bagaimana mereka akan melawan balik makhluk yang menyebabkan wabah ini, bagaimana bentuk rupa makhluknya) tapi sang Sutradara berhasil mengirimkan pesan yang ingin dia sampaikan. Bahwa sebenarnya mereka yang memiliki kekurangan tidak bisa melihat atau tuna netra juga punya peran penting tersendiri ketika dunia serasa akan berakhir. Makhluk penyebar wabah ini memburu penglihatan orang orang normal, ketika mereka melihat, mereka akan mempunyai hasrat untuk menyakiti diri mereka sendiri. Hal itu tidak akan terjadi pada mereka yang tuna netra. Dan dari film ini pula, kita, mereka, jadi tahu bagaimana rasanya tidak memiliki indra penglihatan.

Hm, ketika review film diniati, kok jadinya malah nggak natural ya.



Komentar

Postingan Populer